Implementasi Moderasi Beragama di Lingkungan Kampus Islam

Categories:

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman suku, budaya, dan agama yang tinggi. Dalam konteks tersebut, moderasi beragama menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan dan persatuan bangsa. Konsep ini bukan sekadar jargon sosial, tetapi juga ajaran Islam yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan sikap adil dalam beragama.

Bagi STAIPTIQ Aceh, yang merupakan kampus berbasis pendidikan Islam, moderasi beragama bukan hanya teori, melainkan harus menjadi budaya kampus yang ditanamkan kepada seluruh sivitas akademika. Kampus menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan generasi muslim yang cerdas, terbuka, dan bijak dalam menghadapi perbedaan.


1. Pengertian Moderasi Beragama

Secara sederhana, moderasi beragama berarti bersikap tengah, adil, dan tidak ekstrem dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Dalam Islam, prinsip ini disebut dengan wasathiyyah, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang wasath (pertengahan).” (QS. Al-Baqarah: 143)

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam harus menjadi contoh dalam keseimbangan — tidak berlebih-lebihan (tatharruf), dan tidak pula mengabaikan syariat. Moderasi beragama bukan kompromi terhadap ajaran, tetapi cara cerdas dalam menjaga kedamaian tanpa mengorbankan prinsip.


2. Mengapa Moderasi Beragama Penting di Kampus Islam

Lingkungan kampus merupakan tempat lahirnya calon pemimpin masa depan. Namun, jika nilai toleransi dan keterbukaan tidak ditanamkan sejak dini, maka potensi perpecahan bisa tumbuh.
STAIPTIQ Aceh, sebagai kampus yang mengajarkan ilmu agama dan moralitas Islam, perlu menjadi contoh dalam menanamkan moderasi beragama.

Beberapa alasan mengapa hal ini penting:

  • Mencegah penyebaran paham ekstremisme di lingkungan akademik.
  • Membentuk mahasiswa yang berpikir kritis dan rasional dalam beragama.
  • Menumbuhkan toleransi antarumat dan antarmahasiwa lintas latar belakang.
  • Memperkuat peran kampus sebagai pusat dakwah yang menyejukkan.

3. Pilar-Pilar Moderasi Beragama

Untuk mengimplementasikan moderasi beragama, terdapat empat pilar utama yang dapat dijadikan pedoman:

a. Komitmen Kebangsaan

Seorang muslim harus memiliki kesadaran bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Mahasiswa STAIPTIQ Aceh perlu menumbuhkan semangat nasionalisme yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial.

b. Toleransi

Toleransi bukan berarti menyamakan semua agama, tetapi menghormati keyakinan orang lain tanpa merendahkan atau membenci. Dalam konteks kampus, toleransi dapat diwujudkan melalui kerja sama antarorganisasi dan kegiatan sosial lintas agama atau lembaga.

c. Anti Kekerasan

Islam adalah agama rahmah (kasih sayang). Mahasiswa harus menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal, dalam berdakwah atau menyampaikan pendapat. Dakwah sejati dilakukan dengan hikmah dan kelembutan, bukan dengan kebencian.

d. Kepatuhan terhadap Hukum

Moderasi beragama juga menuntut kepatuhan pada hukum yang berlaku. Menjalankan ajaran agama harus tetap dalam bingkai konstitusi dan aturan negara agar tidak menimbulkan konflik sosial.


4. Implementasi Moderasi Beragama di STAIPTIQ Aceh

STAIPTIQ Aceh dapat menjadi pelopor kampus Islam moderat melalui berbagai strategi nyata, antara lain:

  • Integrasi nilai moderasi beragama dalam kurikulum dan kegiatan akademik.
  • Pelatihan dan seminar moderasi beragama bagi mahasiswa dan dosen.
  • Penguatan organisasi mahasiswa berbasis nilai kebersamaan dan toleransi.
  • Pembinaan rohani kampus (ma’had dan halaqah) yang menekankan keseimbangan antara ilmu dan akhlak.
  • Kolaborasi dengan lembaga keagamaan dan pemerintah untuk kampanye Islam rahmatan lil ‘alamin.

Dengan cara ini, kampus tidak hanya mencetak sarjana agama, tetapi juga pemimpin muda yang mampu berdialog dan membawa perdamaian.


5. Tantangan Moderasi Beragama di Era Digital

Media sosial sering kali menjadi sumber penyebaran ujaran kebencian dan paham ekstrem. Tantangan utama bagi mahasiswa adalah bagaimana bersikap bijak dan selektif dalam menyerap informasi keagamaan.

Untuk itu, mahasiswa STAIPTIQ Aceh perlu:

  • Melatih literasi digital islami, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu intoleran.
  • Memanfaatkan platform digital untuk dakwah yang menenangkan dan edukatif.
  • Menjadi penyebar narasi Islam damai di ruang publik, bukan provokator perpecahan.

6. Dampak Positif Moderasi Beragama di Kampus

Implementasi moderasi beragama membawa banyak manfaat nyata, seperti:

  • Menciptakan iklim akademik yang harmonis dan inklusif.
  • Mendorong mahasiswa untuk berpikir terbuka namun tetap berprinsip.
  • Menguatkan citra kampus Islam yang ramah dan berwawasan global.
  • Membentuk generasi da’i muda yang toleran, cerdas, dan menyejukkan.

STAIPTIQ Aceh dapat menjadi contoh nyata perguruan tinggi Islam yang mampu memadukan semangat keagamaan dengan toleransi sosial secara seimbang.


Kesimpulan

Moderasi beragama merupakan fondasi penting bagi terciptanya kehidupan kampus yang damai, inklusif, dan berperadaban.
Bagi STAIPTIQ Aceh, penerapan nilai-nilai wasathiyyah harus menjadi budaya akademik — tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam kegiatan organisasi, dakwah, dan kehidupan sehari-hari mahasiswa.

Dengan semangat moderasi, kampus Islam akan melahirkan generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga bijak dalam berinteraksi dengan sesama dan membawa kedamaian bagi masyarakat luas.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *