Pendahuluan
Mahasiswa adalah simbol intelektualitas dan moralitas. Namun, kecerdasan akademik saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan etika dan adab yang baik.
Bagi mahasiswa STAIPTIQ Aceh, etika bukan hanya aturan sosial, tetapi juga bagian dari ajaran Islam yang harus dijaga dalam setiap aspek kehidupan — baik di ruang kuliah maupun di tengah masyarakat.
Etika mahasiswa muslim mencerminkan akhlakul karimah, yaitu kepribadian luhur yang berlandaskan iman, ilmu, dan tanggung jawab. Karena itu, menjaga adab di dunia akademik dan sosial merupakan cermin keislaman yang sesungguhnya.
1. Pentingnya Etika dalam Kehidupan Mahasiswa
Etika adalah pondasi moral yang membimbing mahasiswa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Dalam konteks akademik, etika membantu mahasiswa:
- Menjaga integritas ilmiah,
- Menghormati dosen dan sesama mahasiswa,
- Menjalankan tugas dengan jujur,
- Menghindari plagiarisme dan manipulasi data.
Dalam konteks sosial, etika membantu mahasiswa:
- Berinteraksi dengan sopan,
- Menjadi panutan di masyarakat,
- Menjalankan tanggung jawab sosial secara Islami.
Dengan kata lain, etika adalah “kompas moral” yang memastikan mahasiswa tetap berada di jalan yang benar, meskipun menghadapi tekanan dunia modern.
2. Landasan Etika Mahasiswa dalam Islam
Islam memberikan dasar yang kuat bagi pembentukan etika dan akhlak seorang mahasiswa.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak diukur dari gelar atau status sosial, melainkan dari akhlak dan ketakwaan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Mahasiswa muslim harus menjadikan dua prinsip ini sebagai pedoman dalam belajar, berorganisasi, dan berinteraksi dengan masyarakat.
3. Etika dalam Dunia Akademik
Mahasiswa adalah penuntut ilmu. Karena itu, menjaga etika dalam kegiatan akademik menjadi kewajiban utama.
Beberapa etika penting yang harus diterapkan antara lain:
a. Niat yang Lurus
Belajar harus diniatkan sebagai ibadah dan jihad ilmu, bukan semata mencari gelar atau status.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
b. Menghormati Dosen dan Guru
Dosen adalah pembimbing ilmu dan moral. Mahasiswa harus bersikap sopan dalam berbicara, berpakaian, dan bertanya.
Menghormati guru adalah bentuk penghargaan terhadap ilmu itu sendiri.
c. Menjaga Kejujuran Akademik
Plagiarisme, mencontek, atau memanipulasi data adalah pelanggaran serius dalam etika akademik.
Islam sangat menekankan kejujuran sebagai tanda keimanan.
“Celakalah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)
d. Disiplin dan Bertanggung Jawab
Hadir tepat waktu, mengerjakan tugas sesuai jadwal, dan menghormati waktu kuliah adalah bentuk tanggung jawab akademik yang menunjukkan profesionalitas dan akhlak baik.
4. Etika Mahasiswa dalam Dunia Sosial
Mahasiswa juga hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, penting menjaga etika sosial yang mencerminkan nilai Islam.
a. Sopan dalam Pergaulan
Mahasiswa muslim harus menjadi contoh dalam tutur kata dan perilaku.
Bergaul boleh dengan siapa saja, tapi tetap menjaga batas sesuai syariat — terutama antara laki-laki dan perempuan.
b. Berperan Aktif dalam Kegiatan Sosial
Mahasiswa seharusnya menjadi motor penggerak perubahan sosial, misalnya dengan ikut kegiatan masyarakat, mengajar anak-anak, atau menjadi relawan.
Namun, semua aktivitas harus dijalankan dengan niat ikhlas dan tidak sombong atas peran yang dilakukan.
c. Menghindari Ujaran Kebencian di Media Sosial
Era digital menuntut mahasiswa berhati-hati dalam berucap dan menulis di dunia maya.
Jaga etika dalam berkomentar dan hindari menyebarkan hoaks.
Ingat sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Membangun Etika Profesional Sejak di Kampus
Mahasiswa yang beretika baik akan lebih siap menghadapi dunia kerja dan profesi.
Etika profesional dapat dibangun sejak di kampus dengan:
- Menepati janji dan tenggat waktu,
- Menghormati rekan kerja atau teman sekelompok,
- Mengutamakan kerja sama daripada kompetisi tidak sehat,
- Menjaga sikap rendah hati dalam keberhasilan,
- Tidak mudah menjelekkan orang lain atau instansi.
STAIPTIQ Aceh sebagai kampus Islam harus menjadi teladan dalam menanamkan etika ilmiah dan profesionalisme Islami di kalangan mahasiswanya.
6. Dampak Positif Etika bagi Mahasiswa
Menjaga etika membawa banyak manfaat, di antaranya:
- Meningkatkan kepercayaan diri dan kredibilitas.
- Memperluas jaringan sosial yang positif.
- Menumbuhkan rasa hormat dari dosen dan teman.
- Meningkatkan potensi kesuksesan karier dan kehidupan.
- Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.
Dengan kata lain, etika adalah investasi jangka panjang — bukan hanya untuk dunia akademik, tetapi juga untuk kehidupan bermasyarakat dan profesional.
Kesimpulan
Etika adalah cerminan keimanan dan kecerdasan moral seorang mahasiswa muslim.
Bagi STAIPTIQ Aceh, membentuk mahasiswa yang beretika berarti menyiapkan generasi intelektual yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat secara akhlak.
Mahasiswa harus menjadikan nilai Islam sebagai pedoman dalam setiap interaksi akademik dan sosial. Dengan menjaga etika, mahasiswa tidak hanya meraih keberhasilan dunia, tetapi juga keberkahan ilmu dan kemuliaan di sisi Allah SWT.


Leave a Reply